Ada apa denganmu? Ada sambungan apa antara hati ku dan punyamu, kenapa sering sekali datang tak diundang, bahkan saat seharusnya aku menginginkanmu menjauh, jangan urusi aku, jangan anggap aku ada, supaya aku bisa berhenti, dari lari marathon mengejarmu yang secepat kilat, mengejar kilau purnamamu yang mengobrak-abrik getaran dadaku. Ku anggap, semua mimpi tentangmu, adalah indah. Tapi aku tetap menganggapnya buruk, bahkan sangat buruk, kalau aku harus melihatmu dalam tidurku, kamu yang terbaring lemah dengan selang infuse tertancap pada tangan kananmu. Sulit tersenyum, mata berkaca-kaca, dan tak bisa berbuat apa. Seharusnya aku datang, saat yang tepat, alasan yang tepat untuk bertatap muka denganmu, membesarkan hati, ‘memaksa’ mu tersenyum, tapi apalah daya. Jarak dan tembok-tembok tinggi super tebal disiplin Gontor memang kejam. Aku nggak bisa pulang. Mereka menganggap ini masalah kecil. Mereka tidak tahu kalau ini adalah masalah hati, masalah masa depan. Tersiksa aku di...