Skip to main content

Posts

Sebelum berkenalan dengan kecopetan di Megapolitan

Ada kalanya gw punya acara di Jakarta yang berupa rentetan kunjungan ke beberapa kantor media masa untuk belajar dari ahli. Acara tersebut berlangsung selama beberapa hari, diantara hari-hari yang menyibukkan gw untuk pindah dari satu daerah di Jakarta ke daerah yang lain untuk mencapai kantor yang akan kami kunjungi, ada satu hari yang kosong. Maka tidak ada pilihan lain bagi tim gw untuk menghabiskan satu hari tersebut kecuali dengan : liburan! Mumpung di Jakarta. Tapi karena diantara 10 orang tim gw itu nggak ada orang yang asli Jakarta, alhasil kami tidak tahu harus jalan kemana dan naik apa. Saat itu pun kami masih terlalu primitif untuk mengetahui tempat jalan asik dengan aplikasi gawai pintar. Akhirnya kami hanya mengandalkan pengetahuan di masa lampau, yakni mengandalkan ingatan seorang teman yang pernah jalan ke Kota Tua. Sebelumnya gw hanya kenal kota tua dari acara di tivi-tivi, dan kesan saat pertama kali bener-bener dating di Kota Tua adalah : daerah ini memang be...

Satu Jurusan Bisa Jadi Beda Jalurnya : Kisah Sedih Salah Naik Bus

Ibarat pepatah sekali mendayung dua pulau terlampaui, dalam satu perjalanan pulang itu, saya mendapat dua pelajaran penting tentang dunia bus. Kejadiannya pada akhir tahun 2015, waktu itu saya masih kelas 5 KMI, yang sedang menghabiskan liburan pertengahan tahun dengan durasi 10 hari. Karena itu adalah liburan terakhir sebelum saya harus bermukim di pondok sampai lulus, saya memutuskan untuk membuat liburan itu lain. Dari 10 hari itu, saya menghabiskan lima hari pertama di Pulau Lombok, dan lima hari sisanya di Boyolali. Berdasarkan pertimbangan harga tiket yang lebih murah, saya pulang dengan pesawat yang mendarat di Bandara Juanda Surabaya, yang harga tiketnya Rp 400 ribu lebih murah dibandingkan dengan pesawat yang mendarat di Jogjakarta. Konsekuensinya, saya harus melakukan perjalanan darat dari Surabaya menuju Boyolali untuk sampai ke rumah. Seharusnya perjalanan Surabaya ke Boyolali itu menjadi perjalanan yang mudah dibawah arahan dan petunjuk ayah saya. Pasalnya, be...

Hidup yang Mie Instant

Saya adalah salah satu penggemar mie instant. Memang tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Tapi saya pernah menjadikan mie instan sebagai solusi alternatif mengisi perut ketika tidak ada makanan lain saat sarapan, sahur, dan makan malam. Ada juga kalanya ketika saya menganggapnya sebagai camilan untuk mengganjal perut kosong tetapi jam makan belum datang. Suasana yang paling bisa membuat saya menikmati mie instant adalah ketika hujan turun deras. Yakni dengan menambahkan beberapa potong cabe rawit pada mie kuah. Semakin kecil dan semakin muda warna hijau cabainya, maka semakin nikmat pula sensasi pedas dan puas yang saya rasakan. Ketika saya bersekolah di Gontor, ternyata saya menemukan fenomena fanatisme terhadap mie instant yang lebih gila. Setelah nasi ayam yang dijual di kantin-kantin, mie instant dan olahannya menjadi menu paling favorit yang disukai oleh mayoritas murid. Apalagi ketika ujian. Mie instant seolah menjadi teman yang selalu ada untuk menenangkan perut ...

Antara Fasl Fauq dan Fasl Taht,

Secara formal, ada sebuah sistem yang mengatur pembagian kelas untuk siswa Gontor yang baru naik kelas. Yaitu dengan mengurutkan nama-nama mereka berdasarkan nilai ujian. Dengan kata lain, orang dengan nilai paling tinggi, seharusnya ditempatkan di kelas B yang merupakan abjad kelas tertinggi dengan nomor urut saru. Selanjutnya, akan diikuti oleh siswa-siswa lain berdasarkan nilai mereka dari yang paling tinggi ke yang paling rendah. Sistem pembagian kelas itu, di kemudian hari, menciptakan dua golongan akademis yang dipercaya memiliki kemampuan intelektual yang berbeda. Dua golongan itu adalah: fasl fauq , yang secara Bahasa berarti kelas tinggi, dengan rentangan B sampai F. mereka dianggap sebagai golongan dengan kepandaian tinggi. Yang kedua adalah fasl taht , secara etimologi berarti kelas rendah, dengan rentangan G sampai kelas terakhir. Berbanding terbalik dengan fasl fauq , fasl taht dianggap sedikit kurang dalam hal akademis. Anggapan yang berbeda terhadap fasl fauq...

Hari yang Berat Untuk Para Orang Tua

Hari Ahad, 9 Juli 2017, hari ketika hasil ujian masuk KMI diumumkan. Untuk pertama kalinya, anak-anak kecil yang merasa, atau dianggap dirinya cukup jagoan untuk belajar di Gontor, harus belajar banyak tentang kenyataan yang sering kali harus jauh dari apa yang untuk kurun waktu panjang, telah diharap-harapkan. Kebetulan, di hari Ahad saya hanya memiliki satu jadwal mengajar materi matematika kelas 1 yang belum memiliki murid, sehingga otomatis menjadi kosong, dan jadwal untuk mengecek keadaan asrama anak baru, yang otomatis juga belum dihuni karena penghuninya sedang mendengarkan nasib mereka dibacalan satu-persatu. Sungguh, saya tidak kasihan sama sekali dengan para calon pelajar itu. Fokus saya ketika keluar kamar pagi ini bukan tertuju pada 2800-an calon murid yang sedang duduk di bawah terop, yang dengan seksama, serius mendengarkan satu-persatu nomor ujian yang lulus dibacakan. Sekalipun mereka harus berkipas-kipas dengan buku tulis untuk menciptakan angin buatan agar ti...

Hilang

Hilang /hi-lang/  1 tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan 2 tidak ada lagi perasaan 3 tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi, lenyap Hilang, sebuah kata sederhana dalam bahasa Indonesia dengan dua suku kata dan 6 aksara. Sangat sederhana. Sesederhana bagaimana Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan maknanya. Tapi sering kali, sebuah kata yang seharusnya juga hanya memberikan konsekuensi sederhana itu justru membuat kita, atau minimal saya, kacau. Apa perasaanmu ketika sesuatu hilang? Bagaimana jika suatu hal itu amat sangat penting? Bagaimana jika suatu hal tersebut pernah menjadi pemompa semangatmu yang menghilangkan bosan? Bagaimana jika suatu hal tersebut telah membuatmu menatap masa depan lebih terang dan berarti? Bagaimana Perasaanmu? Atau kita balik. Bagaimana perasaanmu jika kamu menghilang? Bagaimana jika kamu adalah suatu hal yang amat sangat penting bagi suatu hal yang lain? Bagaimana jika ternyata, selain penting, kamu juga merupakan suat...

[Berharap]

Ketika kenyataan, tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, itu sudah terlalu biasa. Dan ketika seorang anak laki-laki remaja tidak berani menghadapi kenyataan yang tampaknya menyakitkan, itu terlalu cemen “Kamu mau jadi bagian apa?” Tanya wali kelas kami—5B—kepada murid-muridnya pada sebuah kesempatan mengajar. Jawaban pun beragam. Bermacam-macam sesuai dengan keinginan masing-masing. Ketika itu, setelah Panitia Perganrian Pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern & Koordinator (P3O & P3K) telah diangkat dan mulai bekerja, suasana pondok menhadi panas sekali. Bukan karena musim kemarau yang semakin memuncak, melaninkan karena itu berarti, tidak lamalagi kepengurusan organisasi pelajar yang sebelumnya di[egang oleh siswa kelas 6, akan segera bepindah tangan ke siswa kelas 5. Serah terima pengurus itu berarti banyak. Berarti tidak ada lagi kumpul kamis malam di depan kantor keamanan. Berarti tauqi’ subuh dan 4 waktu shalat lainnya ada di pengasuhan sa...