Skip to main content

Berakhirnya sensasi tokoh 'kamu'

Sebuah dentum lembut mirip ketukan terdengar pelan dan akrab dari alat komunikasi purbaku. Suara itu kadang datang bersama datangnya bahagia, air mata, atau terkadang hanya hampa yang ikut serta bersamanya.
Malam ini ia datang lagi, entah apa yang saat ini kuharapkan dalam hadirnya pada kesendirianku. Pelan-pelan ujung telunjukku menyentuhnya pelan agar terbuka. Ingin tahu, jadi perasaan macam apa yang ikut datang kali ini. Dan rambut pendekku hampir rontok berguguran di atas permadani membaca pesan itu setengah tidak percaya.
Ibu jari dan telunjuk tiba-tiba kompak mencubit daging berlebih di perut. Kalau benar ini bukan mimpi atau sekedar halusinasi, berarti balasan itu resmi membuka obrolan lintas ruang pertama kami dalam hampir setahun terakhir.
Sungguh sulit untuk dipercaya. Setelah ribuan detik terlewati, dengan perasaan dianggap seperti angin malam yang dingin, dan biarkan berlalu, akhirnya. Dia tahu bahwa aku masih ada, dan organ tubuhku termasuk mulut dan hati masih berfungsi dengan baik.
Potongan-potongan kalimat pendek pembuka dan basa-basi pun terbang, melintasi langit yang terbentang diantara lokasi kaki masing dari kami berpijak.
Satu kali dua semester, hidup dalam kotak dinamika sekolah yang berat, bayangannya lah yang jadi motivasi dan pengibur lara yang kurasa. Selama ratusan hari itu, ku biarkan bayangnya hidup dalam kepalaku sendiri, penuh angan dan ilusi.
Ku beri kesempatan ia untuk hidup dalam imajinasiku, dan kadang bertransformasi menjadi tokoh fiksi yang tergores. Mungkin karena aku terlalu berlebihan menghidupkannya sebagai pujaan hati tokoh utama. Hingga aku sadar, ternyata tokoh ‘dia’ dalam imajinasiku adalah yang lebih aku suka. Bentuk nyata dari ‘dia’ terlalu sukar untuk aku gapai dan terima.
Mungkin ini resiko. Mungkin ini hukuman bagi orang yang tidak mau tahu dirinya sendiri.
Seketika pusat dadaku dihujam rasa kecewa. Sesuatu yang selama ini ku harap akan mampu menjadi penawar perih di hati, ternyata tidak mampu berbuat apa-apa. Aku kecewa. Tapi tidak berhak untuk mengungkapkan amarahku. Karena ini adalah akibat dari terlampau jauh menghidupkannya dalam angan, tanpa pernah memahaminya sebagai kenyataan.

Sosok itu pun kini mulai kehilangan sensainya. Dan aku mulai harus belajar, untuk menjadi kuat, dan mampu merelakan.

Comments

Popular posts from this blog

Gontor Horror Story~

Satu (lagi) kejadian yang sempat membuat pondok sibuk membicarakannya. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan bahwa seorang santri yang berasrama di gedung Yaman kesurupan *JGLARR!!. Letak gedung itu memang cukup ekstrim, yakni diujung tenggara kawasan pondok dan paling dekat dengan sungai Malo—sungai tempat sisa-sisa pengikut PKI dipancung berpuluh tahun yang lalu— letak tersebut masuk kategori seram dan mengerikan untuk ukuran asrama. Menurut kabar yang beredar, sebab seorang santri itu kesurupan menurutku cukup menarik perhatian. Ceritanya, si Dono—sebut saja begitu— kehilangan sejumlah nominal uang yang dia simpa di dalam lemari pakaian. Tidak terima dan sakit hati, emosi Dono pun memuncak. Berdirilah ia di teras kamarnya di lantai dua yang langsung menghadap ke arah sungai Malo. “Sini! Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul, atau apapun yang ngambil duitku. ANA LA AKHOF!! Nggak Takut!!” Seperti itu kurang lebih ia berteriak meluapkan amarah . Seakan tantangannya sampai ke telinga ...

Damainya Gontor Tanpa Marosim~

Di Gontor ada dua jalan pemikiran yang saling bertentangan namun juga selalu berjalan beriringan menemani kehidupan santri. Yang pertaman adalah mereka yang setuju bahwa marosim itu bermanfaat untuk melancarkan kegiatan pondok, dan kedua adalah mereka yang justru menganggap marosim adalah bukti bahwa santri Gontor itu lelet dan tidak punya jiwa ketanggapan Jika diterjemahkan denganbahasa arab yang benar, marosim itu berarti upacara. Namun dalam istilah gontori, marosim adalah suatu cara yang dilakukan oleh pengurus untuk mempercepat gerak anggotanya. Misalkan marosim pergi ke masjid, marosim keluar kamar sebelum membaca do’a, marosim berwudlu sebelum shalat, marosim masuk kelas, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama ini hidup santri Gontor selalu lengket dengan kata marosim.penggunaan kata marosim tersebut merujuk pada anggota-anggota yang diberdirikan dengan suatu posisi barisan tertentu menyerupai upacara jika terlambat. Sebenarnya penggunaa kata marosim itu kurang tep...

Botak (lagi)

Apakah kamu juga merasakan bahwa ada saat-saat tertentu dalam hembusan napasmu dimana kamu merasa bukan siapa-siapa dalam hidupmu sendiri? Aku merasakannya juga. Terlebih semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, hingga mau tidak mau rambutku harus hilang digundul. Semangat The Show Must Go On- ku seketika saja hilang bersama hilangnya ribuan helai rambutku dipootong oleh tukang cukur dengan upah lima ribu rupiah. Bagi banyak orang mutik—begitu kami menyebut santri dengan skill patuh pada peraturan tingkat dewa— gundul adalah satu hal yang sangat menyakitkan. Identiknya, orang yang kena hukuman botak akan langsung putus asa. Tiak mau turun ke klub olahraga lagi, tidak mau rueun ke klub musik lagi, kalau yang jadi jurnalis seperti ku yang tidak mau turun ke lapangan mencari berita lagi. Dalam skala yang lebih parah, bisa sampai malas sekolah bahkan untuk sekedar belajar sekalipun. Itu bukan tanpa alasan, loh. Sekali lagi botakitu memang menyakitkan. Pandangan semua orang t...