Skip to main content

Dekatnya Iman dan Impian


Sebagai Sang Kausa Prima, yakni sebab dari segala sesuatu namun Ia sendiri tidak disebabkan oleh suatu hal yang lain, Allah ta’ala selalu menghargai proses yang dijalani oleh hambanya. Sebagai satu contoh, Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki, sebagaimana Ia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya pula, namun kehendak Allah tersebut tentu tidak pernah lepas dari perilaku para hamba itu sendiri.

Kalau boleh menganalogikan, bagi saya istilah ‘kehendak’ tersebut adalah semacam restu, dan jalan dari Allah yang diberikan kepada manusia atas apa yang mereka minta. Ketika kita menjalani suatu rangkaian proses yang membawa kita pada keimanan dan ketaqwaan, maka Allah akan memberikan kehendak-Nya dengan menunjukkan jalan mana lagi yang harus di tempuh, serta ke arah mana kita harus melangkah kemudian, hingga kita terus maju menuju ridho Allah Swt. Kehendak itu juga bisa jadi berupa anugerah rasa nikmat dalam hati kita ketika menjalani prosesnya, sehingga seberapa beratpun proses itu, kita tetap mampu konsisten dengan keimanan dan ketaqwaan.

Sebaliknya, ketika seseorang menjalani rangkaian proses yang menjauhkan diri dari Iman, menjauhi hal-hal yang telah ditentukan supaya diri manusia hidup sesuai dengan ajaran Islam, Allah pun akan menghendakinya dengan memberi jalan supaya mereka lebih jauh, semakin jauh, lagi, dan lagi, hingga yang bersangkutan akhirnya tersesat dalam kegelapan, tidak mampu melihat cahaya untuk kembali pulang pada kebenaran.

Begitulah kehendak Allah, yang pada dasarnya, sangat berkaitan juga dengan kehendak dan perilaku kita sendiri sebagai manusia. Berkenaan dengan uraian di Atas, Imam Syafi’I memiliki gambaran yang sangat indah sekali tentang Iman. Dalam perspektif Imam Syafi’I, Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Jika setuju dengan gambaran Imam Syafi’I tentang iman di atas, maka bagi saya perkara Iman adalah tentang keberanian, tentang seberapa tangguh kita bisa menyelesaikan gejolak di dalam di dalam hati dengan mengambil jalan yang paling benar. Apabila Iman akan bertambah dengan ketaatan, maka kita selalu punya pilihan untuk taat, atau bermaksiat. Memaksa diri untuk selalu berada dalam jalur ketaatan agar iman kita senantiasa bertambah kuat lagi dan terus memang bukan urusan mudah. Kita selalu dihadapkan dengan godaan berupa rasa malas dan nafsu untuk tidak taat demi kesenangan duniawi yang sementara. Namun justru di situlah esensi iman itu berada, pada seberapa yakin kita bahwa keimanan akan membawa kita pada kebahagiaan hidup yang hakiki, dan akan menghadiahi kita dengan balasan-balasan dari Allah, baik bersifat material ataupun tidak.

Sebagai contoh sederhana, kita sering terbangun pada penghujung malam ketika shalat tahajjud seharusnya didirikan. Baik oleh alarm yang sudah kita pasang, atau terbangun secara alami. Pada saat itulah gejolak dalam hati kita terjadi. Apakah kita berani untuk melawan sisa rasa kantuk, lalu bangun untuk berwudhu dan mendirikan shalat, atau justru kalah pada pertempuran dan terus tertidur hingga waktu subuh datang. Pilihan kita pada saat gejolak dalam hati itu terjadi, tentu sangat dipengaruhi oleh seberapa yakin kita bahwa bangun untuk shalat jauh lebih baik dan bernilai daripada tetap tidur di atas ranjang.

Dari penjelasan di atas, kita sama-sama mengetahui bahwa Iman selalu dapat kita tingkatkan dengan konsistensi kita menjalani rangkaian proses yang telah Allah tunjukkan jalannya dalam Al-Qur’an.

Begitu pula dengan impian yang kita miliki.

Ia membutuhkan konsistensi, ia membutuhkan keberanian kita, ia membutuhkan perhatian dan keyakinan.

Kita selalu bisa mengatur posisi diri kita terhadap impian-impian yang ingin kita realisasikan. Apakah semakin dekat, atau justru kita berjalan mundur dan menjadi semakin jauh. Sebagaimana Iman yang memiliki jalan-jalan tertentu untuk meningkatkan kualitasnya, setiap impian yang kita pasang juga memiliki jalan-jalan tertentu yang akan membawa kita semakin dekat dengannya.

Ketika memiliki suatu goal dalam hidup, maka kita harus berani menerima konsekuensi untuk siap menempuh jalannya. Untuk dapat selalu berada di atas jalan yang mendekatkan kita pada impian-impian itu, tentu selalu ada halangan yang sama : rasa malas untuk berproses.

Kita memiliki target untuk mendapat nilai A dalam suatu mata pelajaran, dan menjadi mahasiswa yang berprestasi. Maka setiap hari kita selalu memiliki pilihan, apakah akan bangun lebih pagi, belajar lebih keras, membaca lebih banyak, atau justru memilih untuk tetap bermalas-malasan dan menjalani rutinitas tidak produktif yang sama. Lalu seberapa tangguh kita akan terus konsisten menjalani prosesnya yang berat dan melelahkan, itu tergantung pada seberapa kita yakin pada impian kita. Seberapa kita percaya bahwa di balik hal-hal yang melelahkan itu, ada kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki.

Tentang seberapa kita ‘beriman’ kepada impian kita. Sebab sebagaimana iman, impian juga harus dibuktikan dengan perkataan dan perbuatan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Gontor Horror Story~

Satu (lagi) kejadian yang sempat membuat pondok sibuk membicarakannya. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan bahwa seorang santri yang berasrama di gedung Yaman kesurupan *JGLARR!!. Letak gedung itu memang cukup ekstrim, yakni diujung tenggara kawasan pondok dan paling dekat dengan sungai Malo—sungai tempat sisa-sisa pengikut PKI dipancung berpuluh tahun yang lalu— letak tersebut masuk kategori seram dan mengerikan untuk ukuran asrama. Menurut kabar yang beredar, sebab seorang santri itu kesurupan menurutku cukup menarik perhatian. Ceritanya, si Dono—sebut saja begitu— kehilangan sejumlah nominal uang yang dia simpa di dalam lemari pakaian. Tidak terima dan sakit hati, emosi Dono pun memuncak. Berdirilah ia di teras kamarnya di lantai dua yang langsung menghadap ke arah sungai Malo. “Sini! Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul, atau apapun yang ngambil duitku. ANA LA AKHOF!! Nggak Takut!!” Seperti itu kurang lebih ia berteriak meluapkan amarah . Seakan tantangannya sampai ke telinga ...

Keberanian Gontor Bermimpi

Bermimpi bukanlah suatu ritual maha sakral yang hanya perlu dilakukan oleh individu. Kelompok kerja, organisasi, bahkan sesederhana lingkaran pertemanan pun perlu berani bermimpi. Tanpa mimpi-mimpi itu, hidup berjalan tanpa tujuan. Dan sebagaimana manusia sering katakan, hidup tanpa harap dan tujuan yang tidak melahirkan resiko-resiko adalah suatu hidup yang tidak dihidupi, alias an unlived life. Sebagai suatu institusi yang telah tumbuh dan berkembang, serta masih terus dapat mempertahankan eksistensinya dalam dunia pendidikan di Indonesia bahkan dunia, Gontor adalah suatu teladan yang mengajarkan keberanian memiliki dan merealisasikan mimpi.   Keberanian untuk bermimpi itu diwariskan secara turun-temurun lintas generasi. Dari Kyai kepada para guru, dari guru-guru kepada para santri, begitu seterusnya. Dan pada akhirnya, keberanian bermimpi serta merealisasikannya itu menjadi suatu watak dan ciri khas yang dimiliki oleh para orang yang pernah hidup dalam ritme dinamika...

Damainya Gontor Tanpa Marosim~

Di Gontor ada dua jalan pemikiran yang saling bertentangan namun juga selalu berjalan beriringan menemani kehidupan santri. Yang pertaman adalah mereka yang setuju bahwa marosim itu bermanfaat untuk melancarkan kegiatan pondok, dan kedua adalah mereka yang justru menganggap marosim adalah bukti bahwa santri Gontor itu lelet dan tidak punya jiwa ketanggapan Jika diterjemahkan denganbahasa arab yang benar, marosim itu berarti upacara. Namun dalam istilah gontori, marosim adalah suatu cara yang dilakukan oleh pengurus untuk mempercepat gerak anggotanya. Misalkan marosim pergi ke masjid, marosim keluar kamar sebelum membaca do’a, marosim berwudlu sebelum shalat, marosim masuk kelas, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama ini hidup santri Gontor selalu lengket dengan kata marosim.penggunaan kata marosim tersebut merujuk pada anggota-anggota yang diberdirikan dengan suatu posisi barisan tertentu menyerupai upacara jika terlambat. Sebenarnya penggunaa kata marosim itu kurang tep...