Skip to main content

Nyusu Sambil Ngemil Frech Fries ala The Milk #KulinerBoyolali

Penampang dari meja luar
Petualangan Ulil bareng Griya Pulisen Boys menyusuri sudut-sudut mengisi perut di Boyolali pada malam hari belum berakhir. Kali ini spesial banget, karena malam ini, adalah malam takbiran.
Malam ini kami keluar Cuma bertiga, Ulil, Estu (@paangestu), Aga (@Riyanto_aga). Dido yang biasanya habis-habisan di-bully sedang mudik ke habitat asalnya, sementara Arsyad, nyusul terakhiran.
Padahal kami bertiga baru keluar dari gapura Griya

Pulisen I hampir pukul 21.30 malam, tapi jalanan Boyolali masih ramai banget. Apalagi Jl. Solo-Semarang yang melintasi pasar kota boyolali. Polisi lalu lintas berjaga hampir di setiap persimpangan, memejeng motor dengan lampu panjang berkelap-kelip merah di atas joknya.
tembok
Kecuali mobil-mobil pemudik yang bernomor polisi B,F,D, dsb., jalanan dipenuhi oleh mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut belasan orang, entah kemana tujuan mereka. Yang jelas, hampir setiap mobil sudah dilengkapi dengan speaker jumbo yang mengumandangkan kalimat-kalimat takbir.


Yang menyayat hati adalah, diantara mobil-mobil itu, ada sebuah iring-iringan yang memutar kalimat-kalimat suci tadi dalam versi remix, diiringi dengan musik ala disko yang menurut gue, nggak cocok banget. Apa maksudnya coba?
Kembali ke laptop, rencana awal kami adalah ‘minum’ susu di The Milk, yang ada di Jl. Kates, gampangnya ada di dekat ngebong. Jalan ke utara beberapa ratus meter dari Kantor Agraria.
Tapi ternyata pukul 9.30 itu terlalu larut untuk dapat tempat duduk di kedai ini. Bangkunya sudah penuh, bahkan ada yang ngantri sambil berdiri di depan bar. Tidak kehabisan akal, Aga membelokkan Honda beat-nya ke arah selatan, melaju ke Hekya di belakang SMAN 1 Boyolali.
Ternyata Hekya lebih parah daripada The Milk. Lebih ramai. Opsi lainnya yang seketika muncul adalah T-co, di dekat SMPN 1 Boyolali, tutup. Mencoba jalan ke timur, kami sampai di Mat Moen yang ternyata tutup juga.
Kami memutar balik stang motor, kembali ke Jl. Solo-Semarang, parkir di halaman Panties Pizza. Masih buka, sepi, tapi habis. Jadilah motor kami meluncur ke sunggingan, sampai ke sebuah kedai Pizza di dekat SMPN 3 Boyolali, ternyata ada warung pizza di tempat yang lumayan ndelik ini. Masih buka, sepi, Pizza-nya masih ada, tapi harus dibawa pulang karena warungnya mau tutup. *Tepuk jidat.
Udah keliling-keliling Boyolali, kalo nggak tutup, ya ramai, sudah hampir pukul 22.00 dan belum dapat tempat makan. Opsi terakhir kalau The Milk masih penuh adalah warung ramen di depan DPD Golkar.


Boyolali mah gitu, hari-hari biasa jam segini jalanan sudah senyap, warung-warung sudah tutup pintu semuanya, giliran malem lebaran aja semua orang keluar dari kandangnya, semua orang pengen ngeksis, akibat dari itu adalah semua tempat makan yang buka full. -__-
Beruntung banget kami sempet mengecek The Milk untuk kedua kalinya. Alhamdulillah, sudah ada tempat kosong, walaupun masih ramai juga. Dan kerennya, pegawai The Milk masih mau menerima kami dengan begitu ramah. boleh pesan makanan dan boleh makan di tempat. Pokoknya +10000 buat kedai yang berani buka pintu sampai tengah malam.
Pukul 22.00 tepat. Baru dapet tempat buat duduk.
The Milk itu, sesuai namanya, jualan Milk Shake dan susu murni. Sebagai sebuah kota yang—entah resmi atau tidak—mem-branding ­dirinya dengan susu segar, seharusnya ada banyak warung yang jualan susu. Selama ini yang Ulil tahu baru ada The Milk, dan pendahulunya yang sudah bertahun-tahun bertahan dan tetap ramai, Spesial Susu Segar, saudaranya spesial sambal yang kedua-duanya ada di Jl. Perintis Kemerdekaan.
Perbedaan mendasar antara dua warung yang sama-sama mengedepankan produk susu ini adalah suasana dan menu makanannya.
Spesial Susu Segar lebih berorientasi ke angkringan. Hampir semua menu susunya adalah susu segar, beneran susu sapi, dengan ditambah menu pendamping berupa jajanan ringan khas angkringan seperti; Sego kucing, Sate usus, Tempe bacem, Tahu goreng, dsb.
Sementara The Milk lebih berorientasi ke menu-menu Western. Entah siapa yang memulai, yang jelas sekarang banyak banget tempat makan di Boyolali yang menjual makanan-makanan ala barat.
Tapi kalau melihat siapa lelaki dibalik The Milk ini sih tidak aneh. Beliau adalah yang dahulu mendirikan Distro gandung, yang kemudian entah kenapa, banting setir menjadi wirauswasta kuliner dengan brand Milk Town-nya. Pernah mendirikan Milk Shake di dekat MI Negeri Boyolali, kemudian berkembang dengan menjual sosis bakar keliling.
Ya The Milk inilah hasil perkawinan dari semua divisi usaha mas gandung. Sebuah kafe susu dengan menu pendamping berupa makanan kebarat-baratan.
Hampir sama dengan Sandee, dengan mata saja kita sudah bisa merasakan suasana cozy yang akan dirasakan oleh pengunjung. Penataan ruang dan interiornya sangat kreatif. Kursinya saja bukan kursi biasa. Yakni adalah bekas pembungkus obat-obatan yang berbentuk silinder.
Keempat sisi dinding bagian meja dalam ruang yang lumayan kecil, tertempel banyak foto-foto artis dalam bentuk vector dan WPAP. Dilihatnya enak, dan lain daripada yang lain. Intinya, The Milk cocok buat kamu kamu yang doyan narsis di tempat makan. Spot fotonya keren dengan background dinding anti mainstream.
Salah satu yang membuat Ulil suka dengan The Milk adalah akses Wi-Fi gratis.
Di dalam ruang, ada sebuah TV Plasma yang tersambung dengan layanan TV berbayar. Hidangan pertama yang menyambut kami sebelum makanan dan minuman adalah sebuah acara televise yang menayangkan cewek-cewek berbikini sedang menari erotis di pinggir kolam renang -___- *Eugh. Malam lebaran brooh.
Selayaknya kafe dengan pelayanan baik, waiter segera tanggap menghampiri kami dengan daftar menu begitu kami bertiga datang. Tepat saat daftar menu ditinggal oleh waiter di atas meja kami, Arsyad datang dengan Kawasaki klx super kerennya.
Daftar menu The Milk juga lumayan lah, kecil, tapi padat. Ada banyak pilihan minuman dan makanan selain menu nasi yang bisa kamu beli.
Pilihannya ada Beverage Ice Milk, sama Hot Beverage. Macam-maca minumannya sih sama; chocolate, oreo, vanilla, grape, dsb. Bedanya Cuma ya panas dan dingin.
Semua minuman disediakan dalam dua pilihan gelas, medium dan large.
Omelet

Oreo versi gelas jumbo

Grape Milk Shake make gelas medium
Untuk mengisi perut, kamu bisa memilih Grill (bakaran) yang berupa; roti bakar coklat, bakso ikan, jagung manis (mayo/coklat), sosis dalam varian medium atau jumbo, dsb. Atau Fries (gorengan).
Jangan kira menu bakaran disini berupa jadah bakar ataupun sate usus bakar ya. -__-‘
Rasa-rasa makanan dan minumannya sih enak. French Fries-nya gurih, sosisnya enak. Cuma lidah Ulil dan tenggorokan Ulil aja yang kurang suka sam Milk Shake bubuk, lebih suka susu murni yang ada di SSS.
Bicara harga, ada beberapa menu di The Milk yang ternyata lebih murah dibandingkan dengan menu sama yang dijual di Sandee. Namun keduanya punya kelebihan masing-masing.

The Milk juga cocok buat kamu yang suka berhaha-hihi bareng temen-temen sampai malam karena The Milk buka sampai jam 12 malam.

Comments

Popular posts from this blog

Gontor Horror Story~

Satu (lagi) kejadian yang sempat membuat pondok sibuk membicarakannya. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan bahwa seorang santri yang berasrama di gedung Yaman kesurupan *JGLARR!!. Letak gedung itu memang cukup ekstrim, yakni diujung tenggara kawasan pondok dan paling dekat dengan sungai Malo—sungai tempat sisa-sisa pengikut PKI dipancung berpuluh tahun yang lalu— letak tersebut masuk kategori seram dan mengerikan untuk ukuran asrama. Menurut kabar yang beredar, sebab seorang santri itu kesurupan menurutku cukup menarik perhatian. Ceritanya, si Dono—sebut saja begitu— kehilangan sejumlah nominal uang yang dia simpa di dalam lemari pakaian. Tidak terima dan sakit hati, emosi Dono pun memuncak. Berdirilah ia di teras kamarnya di lantai dua yang langsung menghadap ke arah sungai Malo. “Sini! Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul, atau apapun yang ngambil duitku. ANA LA AKHOF!! Nggak Takut!!” Seperti itu kurang lebih ia berteriak meluapkan amarah . Seakan tantangannya sampai ke telinga ...

Damainya Gontor Tanpa Marosim~

Di Gontor ada dua jalan pemikiran yang saling bertentangan namun juga selalu berjalan beriringan menemani kehidupan santri. Yang pertaman adalah mereka yang setuju bahwa marosim itu bermanfaat untuk melancarkan kegiatan pondok, dan kedua adalah mereka yang justru menganggap marosim adalah bukti bahwa santri Gontor itu lelet dan tidak punya jiwa ketanggapan Jika diterjemahkan denganbahasa arab yang benar, marosim itu berarti upacara. Namun dalam istilah gontori, marosim adalah suatu cara yang dilakukan oleh pengurus untuk mempercepat gerak anggotanya. Misalkan marosim pergi ke masjid, marosim keluar kamar sebelum membaca do’a, marosim berwudlu sebelum shalat, marosim masuk kelas, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama ini hidup santri Gontor selalu lengket dengan kata marosim.penggunaan kata marosim tersebut merujuk pada anggota-anggota yang diberdirikan dengan suatu posisi barisan tertentu menyerupai upacara jika terlambat. Sebenarnya penggunaa kata marosim itu kurang tep...