Skip to main content

Sorry,

Kata maaf jadi memiliki makna yang jauh lebih banyak setelah dia mengucapkannya kepadaku. Walaupun tidak langsung secara lisan, but it was more than enough. Apalagi maaf itu diucapkan tanpa dia melakukan kesalahan.
Memang segala usaha yang aku coba hanya menghasilkan percakapan satu arah. Seperti antara wartawan dan narasumber yang sebenarnya tidak mau diwawancarai. Itupun sudah jauh lebih baik daripada berbulan lalu, ketika aku tidak lain halnya dari sebuah debu yang ditiup.
Walaupun menyakitkan, tapi buatku itu bukan berarti kesalahan. Itu hanyalah reaksi wajar dari hati yang merasa terusik. Yang tidak ingin diganggu oleh hadirku. Ini adalah jawaban bahwa aku bukanlah yang diinginkannya.
Aku pun tak tahu setan apa yang merasukinya. Mulut siapa yang sudah mendorongnya, hingga dia meminta maaf, untuk banyak kesalahannya kepadaku yang tidak pernah ada.
Ini adalah tindakan seorang anak manusia yang paling gentle di bulan Juli. Meskipun bulan ini barusaja dimulai. Apalagi dia berasal dari jenis yang biasanya hanya ingin dimintai maaf.
Mindset ku soal itu sempurna berubah sudah.


Padahal saat itu sebenarnya aku sudah merampungkan janjiku. Hanya sampai tulisan itu selesai. Lantas sudah bersiap untuk melupakan dan merelakan.
Hingga kata maaf itu datang, membuat akhir dari kisah secret admiring ini tidak ditutup dengan perang dingin. Tidak diakhiri dengan perang media sosial. Dia memang beda. Bahkan dalam memperlakukan sosok yang sangat tidak penting dalam hidupnya. Aku.
Pengakuan maaf itu membuatnya semakin anggun, semakin cantik. Dan semakin pantas untuk. Tapi semoga tidak akan merubah keyakinanku yang paling penting, bahwa mungkin I wasn’t born for her.

Jadi, aku juga ingin meminta maaf, kamu lebih tau bagian mana yang seharusnya kamu maafkan. Yrtims kasih sudah menjadi sosok admired yang baik. Semoga tumbuh dan berkembang dengan baik. Semoga ada angin yang membawakan tulisan ini kepadamu. :)

Comments

Popular posts from this blog

Gontor Horror Story~

Satu (lagi) kejadian yang sempat membuat pondok sibuk membicarakannya. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan bahwa seorang santri yang berasrama di gedung Yaman kesurupan *JGLARR!!. Letak gedung itu memang cukup ekstrim, yakni diujung tenggara kawasan pondok dan paling dekat dengan sungai Malo—sungai tempat sisa-sisa pengikut PKI dipancung berpuluh tahun yang lalu— letak tersebut masuk kategori seram dan mengerikan untuk ukuran asrama. Menurut kabar yang beredar, sebab seorang santri itu kesurupan menurutku cukup menarik perhatian. Ceritanya, si Dono—sebut saja begitu— kehilangan sejumlah nominal uang yang dia simpa di dalam lemari pakaian. Tidak terima dan sakit hati, emosi Dono pun memuncak. Berdirilah ia di teras kamarnya di lantai dua yang langsung menghadap ke arah sungai Malo. “Sini! Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul, atau apapun yang ngambil duitku. ANA LA AKHOF!! Nggak Takut!!” Seperti itu kurang lebih ia berteriak meluapkan amarah . Seakan tantangannya sampai ke telinga ...

Damainya Gontor Tanpa Marosim~

Di Gontor ada dua jalan pemikiran yang saling bertentangan namun juga selalu berjalan beriringan menemani kehidupan santri. Yang pertaman adalah mereka yang setuju bahwa marosim itu bermanfaat untuk melancarkan kegiatan pondok, dan kedua adalah mereka yang justru menganggap marosim adalah bukti bahwa santri Gontor itu lelet dan tidak punya jiwa ketanggapan Jika diterjemahkan denganbahasa arab yang benar, marosim itu berarti upacara. Namun dalam istilah gontori, marosim adalah suatu cara yang dilakukan oleh pengurus untuk mempercepat gerak anggotanya. Misalkan marosim pergi ke masjid, marosim keluar kamar sebelum membaca do’a, marosim berwudlu sebelum shalat, marosim masuk kelas, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama ini hidup santri Gontor selalu lengket dengan kata marosim.penggunaan kata marosim tersebut merujuk pada anggota-anggota yang diberdirikan dengan suatu posisi barisan tertentu menyerupai upacara jika terlambat. Sebenarnya penggunaa kata marosim itu kurang tep...

Botak (lagi)

Apakah kamu juga merasakan bahwa ada saat-saat tertentu dalam hembusan napasmu dimana kamu merasa bukan siapa-siapa dalam hidupmu sendiri? Aku merasakannya juga. Terlebih semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, hingga mau tidak mau rambutku harus hilang digundul. Semangat The Show Must Go On- ku seketika saja hilang bersama hilangnya ribuan helai rambutku dipootong oleh tukang cukur dengan upah lima ribu rupiah. Bagi banyak orang mutik—begitu kami menyebut santri dengan skill patuh pada peraturan tingkat dewa— gundul adalah satu hal yang sangat menyakitkan. Identiknya, orang yang kena hukuman botak akan langsung putus asa. Tiak mau turun ke klub olahraga lagi, tidak mau rueun ke klub musik lagi, kalau yang jadi jurnalis seperti ku yang tidak mau turun ke lapangan mencari berita lagi. Dalam skala yang lebih parah, bisa sampai malas sekolah bahkan untuk sekedar belajar sekalipun. Itu bukan tanpa alasan, loh. Sekali lagi botakitu memang menyakitkan. Pandangan semua orang t...