Skip to main content

How Fast The Time has Passed

Lagi pengen jujur-jujuran dan mengenang beberapa step pertumbuhan yang telah berlalu.

Dulu, saat aku hanyalah seorang bocah ingusan—padahal sekarang masih—berseragam putih dengan bawahan merah darah, melihat Alumni yang datang lagi ke MIN dengan seragam SMP kebanggaan mereka adalah sebuah momen yang sangat luar biasa. Itu adalah momen dimana hatiku ngiler deras. Saat melihat rombongan mereka datang untuk keperluan apapun, seakan mereka merkata padaku yang menatapnya penuh rasa takjub, “Kita dulu kaya kalian loh, tapi sekarang udah gede. Udah SMP.” Asem, batinku gondok-gondok sendiri.

Itu sama dengan halnya saat aku dalam perjalanan, dan kebetulan melewati Jl. Merapi, di pertengahan jalan—tepatnya setelah pertigaan yang menghubungkan Jl. Merapi dengan arah kuburan—pasti aku yang melaju dari arah barat menyempatkan kepala untuk sekedar menengok ke kiri. Bangunan itu, di mata dan hatiku memiliki wibawa tersendiri. Ketika melihatnya walaupun hanya sekilas, seakan deretan gedung itu menantangku untuk memperjuangkannya. Aku ngiler juga saat melintasinya, apalagi kalau melihat Murid-murid sekolah itu tertawa bahagia di di depannya. Waktu itu, menurutku SMP akan jadi pengalaman yang indah.


Sama juga, bahkan lebih ketika aku menuruni Jl. Pisang yang menanjak itu, pasti melewati SMA SATU BOYOLALI. Disini ngilernya lebih deras, melihat mbak-mbak dan mas-mas berseragam putih abu-abu itu, membuatku ingin buru-buru gede dan jadi anak SMA. Karena konon, masa SMA itu adalah masa sekolah yang paling tidak akan terlupakan. Namun kenyataannya aku juga tidak tahu karena tidk akan pernah merasakan duduk di bangku SMA.

Dulu aku selalu berpikiran bahwa lulus SD, lalu jadi anak SMP dan SMA itu akan jadi suatu hal yang sangat menyenangkan. Dengan lulus SD, setidaknya titel anak-anak itu sudah mulai lepas dan kita dianggap cukup umur untuk banyak berkegiatan dan berpetualang. Atau minimal dalam prespektif pribadiku sendiri, yang menganggap bahwa anak SMP dan SMA itu sudah gede. Dan aku harus cepet-cepet lulus SD untuk membuktikannya.

Namun kenyataannya pikiran itu kini berubah. Setelah merasakannya, ternyata biasa saja. Jujur aku sedikit kecewa. Tidak ada perasaan khusus atau kebahagiaan tersendiri saat menjalaninya. Entah memang benar begitu atau hanya karena aku merasakannya dalam lingkungan pondok yang hyperprotective.

SMP 1, yang dulu aku merasa tertantang untuk menaklukannya, kini saat aku melintas murid-muridnya adalah teman dan adik-adik kelasku sendiri, bukan mbak-mbak dan mas-mas dewasa seperti yang sering aku bayangkan bertahun-tahun lalu. Juga kekecewaan yang sama terasa saat melintas SMA 1, berkat Gontor yang membuatku lebih cepat satu tahun, ternyata diluar levelku sama dengan murid-murid kelas sepuluh.

Kini aku merasakan kecewa dan kaget secara bersamaan. Kecewa karena ternyata rasanya hanya begitu saja, dan kaget ternyata begitu cepat aku sampai ke step yang dulu sering membuatku takjub. 3 tahun berlalu sejak lulus SD itu terasa hanya seperti tiga minggu saja.

Namun di hati yang lebih dalam lagi, aku bangga. Inilah step yang dulu sering kujadikan kambing hitam untuk menunda pekerjaan. Jika merasa tertantang untuk melakukan sesuatu, dalam hati pasti aku berbicara, ah nanti kalau sudah SMA saja, sekarang kan masih anak kecil.

Dan kini datang juga giliranku untuk jadi anak SMA. Terhitung mulai hari ini, sebagai seorang anak yang kalau ditanya kelas berapa jawabannya kelas satu SMA, setidaknya aku masih punya 2 hingga 3 tahun lagi untuk bertransformasi jadi orang hebat. Agar suatu hari nanti saat aku ditanya kapan aku memulai kesuksesan besar itu, dengan bangga aku bisa menjawab sejak SMA.

Semoga saja. Jujur semakin tinggi step yang aku lalui, aku justru semakin takut. Takut melewati step emas yang hanya lewat sekali dalam hidup itu tidak dengan seperti yang dulu aku impi-impikan.

Dan malam ini adalah malam terakhir sebelum untuk kesekiannya kembali lagi ke pondok. Jujur aku senang bisa balik ke pondok. Tempat dimana aku benar-benar merasakan tumbuh dan berkembang. Aku rindu dengan dinamika kehidupannya. Aku rindu, bertanya tantangan apa lagi. Semoga lingkungan pondok itu jadi tempat terbaik untukku. Semoga saja.






Comments

Popular posts from this blog

Gontor Horror Story~

Satu (lagi) kejadian yang sempat membuat pondok sibuk membicarakannya. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan bahwa seorang santri yang berasrama di gedung Yaman kesurupan *JGLARR!!. Letak gedung itu memang cukup ekstrim, yakni diujung tenggara kawasan pondok dan paling dekat dengan sungai Malo—sungai tempat sisa-sisa pengikut PKI dipancung berpuluh tahun yang lalu— letak tersebut masuk kategori seram dan mengerikan untuk ukuran asrama. Menurut kabar yang beredar, sebab seorang santri itu kesurupan menurutku cukup menarik perhatian. Ceritanya, si Dono—sebut saja begitu— kehilangan sejumlah nominal uang yang dia simpa di dalam lemari pakaian. Tidak terima dan sakit hati, emosi Dono pun memuncak. Berdirilah ia di teras kamarnya di lantai dua yang langsung menghadap ke arah sungai Malo. “Sini! Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul, atau apapun yang ngambil duitku. ANA LA AKHOF!! Nggak Takut!!” Seperti itu kurang lebih ia berteriak meluapkan amarah . Seakan tantangannya sampai ke telinga ...

Damainya Gontor Tanpa Marosim~

Di Gontor ada dua jalan pemikiran yang saling bertentangan namun juga selalu berjalan beriringan menemani kehidupan santri. Yang pertaman adalah mereka yang setuju bahwa marosim itu bermanfaat untuk melancarkan kegiatan pondok, dan kedua adalah mereka yang justru menganggap marosim adalah bukti bahwa santri Gontor itu lelet dan tidak punya jiwa ketanggapan Jika diterjemahkan denganbahasa arab yang benar, marosim itu berarti upacara. Namun dalam istilah gontori, marosim adalah suatu cara yang dilakukan oleh pengurus untuk mempercepat gerak anggotanya. Misalkan marosim pergi ke masjid, marosim keluar kamar sebelum membaca do’a, marosim berwudlu sebelum shalat, marosim masuk kelas, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama ini hidup santri Gontor selalu lengket dengan kata marosim.penggunaan kata marosim tersebut merujuk pada anggota-anggota yang diberdirikan dengan suatu posisi barisan tertentu menyerupai upacara jika terlambat. Sebenarnya penggunaa kata marosim itu kurang tep...

Nyusu Sambil Ngemil Frech Fries ala The Milk #KulinerBoyolali

Penampang dari meja luar Petualangan Ulil bareng Griya Pulisen Boys menyusuri sudut-sudut mengisi perut di Boyolali pada malam hari belum berakhir. Kali ini spesial banget, karena malam ini, adalah malam takbiran. Malam ini kami keluar Cuma bertiga, Ulil, Estu (@paangestu), Aga (@Riyanto_aga). Dido yang biasanya habis-habisan di- bully sedang mudik ke habitat asalnya, sementara Arsyad, nyusul terakhiran. Padahal kami bertiga baru keluar dari gapura Griya Pulisen I hampir pukul 21.30 malam, tapi jalanan Boyolali masih ramai banget. Apalagi Jl. Solo-Semarang yang melintasi pasar kota boyolali. Polisi lalu lintas berjaga hampir di setiap persimpangan, memejeng motor dengan lampu panjang berkelap-kelip merah di atas joknya. tembok Kecuali mobil-mobil pemudik yang bernomor polisi B,F,D, dsb., jalanan dipenuhi oleh mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut belasan orang, entah kemana tujuan mereka. Yang jelas, hampir setiap mobil sudah dilengkapi dengan speaker jumbo yang meng...