Skip to main content

U M I

Setiap bulan, ditengah-tengah kesibukannya, Umi selalu menjadwalkan untuk datang ke Gontor menjengukku dan Mas Thoriq. Kadang-kadang ditemani Mbak Dinar, ataupun Abah. Tapi lebih sering yang kurasakan adalah Umi datang tanpa teman. Menyetir sendirian dari Boyolali ke Ponorogo. Kalau datangpun tidak pernah setengah-setengah. Pasti selalu membawa masakan bermacam-macam yang dimasak dengan cinta. Berbeda dengan makanan sehari-hariku di dapur yang entah siapa yang memasak. Dan aku selalu menikmati makanan yang nikmatnya sampai ke hari itu.

Sejujurnya aku tahu, Umi pasti lelah, tapi beliasu selalu menyembunyikannya dari kami.
Kasih sayang Umi padaku bukan hanya kurasakan begitu aku masuk Gontor dan jauh dari rumah, namun sejak aku kecil dan bukan apa-apa. Bahkan sejak aku belum mampu membedakan antara yang terang dan gelap. Sejak kecil Umi-lah yang hampir selalu mengurusi keperluanku. Aku sepenuhnya ingat saat Umi mengajariku membaca dengan buku-buku warisan dari Mbak Dinar. Saat itu umurku belum genap lima tahun. Sebenarnya aku tidak suka diajari membaca, selalu berusaha kabur dan lari. Tapi untungnya saat itu Umi mau bersabar dan terus memaksaku. Efeknya, saat masuk TK aku jadi orang pertama yang bisa membaca. Lebih dari itu, tulisan ini, dan semuaa prestasi yang pernah aku capai sampai hari ini bermula dari situ. Dari ibuku.

Aku juga sepenuhnya ingat, sejak kecil Umi-lah yang pertama kali mengantarku ke dokter kalau sedang sakit, menemani tidur, membuatkan susu, membuatkan teh, semuanya Umi. Cinta umi kepadaku memang tidak pernah ada batasnya.

Umi adalah orang pertama yang paling ingin kebutuhanku terpenuhi. Beliau selalu menanyakan uang masih cukup atau tidak, susu masih ada atau tidak. Adalah orang yang selalu ingin aku merasa nyaman. Adalah tempatku pertama kali belajar segala sesuatu. Walaupun sebenarnya beliau begitu sibuk, namun selalu mau meluangkan waktu untukku. Meskipun lelah meskipun pusing.
Juga adalah Umi yangmengurusi segala keperluanku, sejak mendaftarkan diri ke TK, mengisi formulir pendaftaran MIN, masuk Gontor, hingga kini sudah kelas 4 KMI. Siapalagi orang paling penting dalam hidupku kalau bukan Umi.

Pada suatu saat ketika beliau mengunjungiku, Umi berkata,
Kalau Umi dan aku selalu bersama, sekalinya berpisah pasti sangat sedih. Kalau sudah biasa berpisah dan ditinggal, pasti akan terbiasa. Kalau sudah terbiasa jauh, sekalinya bertemu pasti akan ada suatu kebahagiaan yang dirasakan. Aku benar-benar merasakan itu.

Di hari ibu ini, aku ingin berterima kasih padanya. Yang telah membesarkanku selama 15 tahun dan masih akan terus berlanjut.


Comments

Popular posts from this blog

Gontor Horror Story~

Satu (lagi) kejadian yang sempat membuat pondok sibuk membicarakannya. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan bahwa seorang santri yang berasrama di gedung Yaman kesurupan *JGLARR!!. Letak gedung itu memang cukup ekstrim, yakni diujung tenggara kawasan pondok dan paling dekat dengan sungai Malo—sungai tempat sisa-sisa pengikut PKI dipancung berpuluh tahun yang lalu— letak tersebut masuk kategori seram dan mengerikan untuk ukuran asrama. Menurut kabar yang beredar, sebab seorang santri itu kesurupan menurutku cukup menarik perhatian. Ceritanya, si Dono—sebut saja begitu— kehilangan sejumlah nominal uang yang dia simpa di dalam lemari pakaian. Tidak terima dan sakit hati, emosi Dono pun memuncak. Berdirilah ia di teras kamarnya di lantai dua yang langsung menghadap ke arah sungai Malo. “Sini! Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul, atau apapun yang ngambil duitku. ANA LA AKHOF!! Nggak Takut!!” Seperti itu kurang lebih ia berteriak meluapkan amarah . Seakan tantangannya sampai ke telinga ...

Damainya Gontor Tanpa Marosim~

Di Gontor ada dua jalan pemikiran yang saling bertentangan namun juga selalu berjalan beriringan menemani kehidupan santri. Yang pertaman adalah mereka yang setuju bahwa marosim itu bermanfaat untuk melancarkan kegiatan pondok, dan kedua adalah mereka yang justru menganggap marosim adalah bukti bahwa santri Gontor itu lelet dan tidak punya jiwa ketanggapan Jika diterjemahkan denganbahasa arab yang benar, marosim itu berarti upacara. Namun dalam istilah gontori, marosim adalah suatu cara yang dilakukan oleh pengurus untuk mempercepat gerak anggotanya. Misalkan marosim pergi ke masjid, marosim keluar kamar sebelum membaca do’a, marosim berwudlu sebelum shalat, marosim masuk kelas, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama ini hidup santri Gontor selalu lengket dengan kata marosim.penggunaan kata marosim tersebut merujuk pada anggota-anggota yang diberdirikan dengan suatu posisi barisan tertentu menyerupai upacara jika terlambat. Sebenarnya penggunaa kata marosim itu kurang tep...

Nyusu Sambil Ngemil Frech Fries ala The Milk #KulinerBoyolali

Penampang dari meja luar Petualangan Ulil bareng Griya Pulisen Boys menyusuri sudut-sudut mengisi perut di Boyolali pada malam hari belum berakhir. Kali ini spesial banget, karena malam ini, adalah malam takbiran. Malam ini kami keluar Cuma bertiga, Ulil, Estu (@paangestu), Aga (@Riyanto_aga). Dido yang biasanya habis-habisan di- bully sedang mudik ke habitat asalnya, sementara Arsyad, nyusul terakhiran. Padahal kami bertiga baru keluar dari gapura Griya Pulisen I hampir pukul 21.30 malam, tapi jalanan Boyolali masih ramai banget. Apalagi Jl. Solo-Semarang yang melintasi pasar kota boyolali. Polisi lalu lintas berjaga hampir di setiap persimpangan, memejeng motor dengan lampu panjang berkelap-kelip merah di atas joknya. tembok Kecuali mobil-mobil pemudik yang bernomor polisi B,F,D, dsb., jalanan dipenuhi oleh mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut belasan orang, entah kemana tujuan mereka. Yang jelas, hampir setiap mobil sudah dilengkapi dengan speaker jumbo yang meng...