Skip to main content

Nyontek (?)

Mau sedikit cerita tentang pelajarannya anak Gontor. Disini, para pendiri pondok kami berprinsip untuk bersistem mandiri. Mulai dari cara mendidik hingga kurikulum pelajarannya. Maka jangan heran, meskipun bertitel modern dan berstatus international school, kelas disini tetap menggunakan kapur dan berbangku kayu panjang yang setiapnya diduduki oleh 4 murid.

Secara bertahap, semua hal diusahakan bikinan sendiri, dan santri-santrinya harus mau mengikuti tanpa protes melalui sepatah kata pun. Karena kata Kiai Hasan, intervensi adalah kedzaliman.

Dalam kurikulum Kulliyatu-L-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) yang digunakan Gontor, hampir 85% materi pelajarannya menggunakan bahasa asing sebagai pengantar. Yakni Bahasa Arab dan Inggris. Di setiap kelas, paling banyak hanya terdapat 3-4 materi pelajaran yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Pelajaran dengan bahasa arab sebagai pengantar memang dinilai sulit oleh sebagian orang. Namun setelah paling lama dua tahun menjalani proses belajar bahasa arab, kenyataannya para santri Gontor sudah mampu beradabtasi dan memahami pelajaran. Bahkab yang banyak dirasakan, setelah terbiasa belajar pelajaran berbahasa arab, justru akan terasa sedikit sulit kalau belajar menggunakan buku berpengantar bahasa indonesia yang umunya digunakan oleh sekolah-sekolah non-pesantren.

Pelajar Indonesia yang mempelajari oelajaran berbahasa oengantar bahasa asing justru memiliki nilai lebih, faktanya, alumni Gontor banyak yang lebih unggul saat bersaing dengan pelajar non-pesantren. Sebut saja Ahmad Fuadi, salah satu alumni Gontor bertahun silam yang sampai saat ini sudah berhasil mendapatkan 10 beasiswa dari berbagai pihak.


Materi pelajaran dan kurikulum Gontor yang berbeda dengan kebanyakan sekolah umum diluar tersebut membentuk cara belajar santri yang juga berbeda dengan cara belajar siswa non-pesantren diluar sana. Ditambah lagi dengan Gontor yang lebih mengutamakan pendidikan ketimbang pengajaran, dimana seluruh santridisibukkan dengan banyak kegiatan ‘bernutrisi’ pendidikan tanpa henti. Hal tersebut banyak memotong waktu belajar para santri. Belum termasuk berapa banyak waktu yang terpotong akibat mengantuk saat jam pelajaran di kelas dan belajar malam.

Untungnya pondok masih mau mengerti, mendekati waktu ujian, segala macam ekstrakulikuler dan kegiatan olahraga dihentikan. Saat itulah para santri memanfaatkan waktu untuk belajar seserius mungkin. Sebagai gantri waktu mereka yang banyak terpotong sebelumnya.

Karena bahasa pengantar pelajaran di Gontor didominasi oleh bahasa arab, untuk belajar, para santri tidak cukup melakukannya dengan membaca dan memahami materi, namun juga perlu menghafalnya keseluruhan. Karena tidak ada pilihan ganda dalam ujian di Gontor, semuanya adalah jawaban essai, menuntut ingatan dan pemahaman yang mendalam. Juga karena pada dasarnya, saat belajar materi pelajaran, para santri juga mendalami bahasa arab melalui vocabulary, idiom, dan kaidah yang terdapat dalam buku pelajaran. Dan itu harus melalui proses menghafal. Walaupun pada akhirnya saat menjawab ujian nanti kami menggunakan bahasa sendiri sesuai dengan tingkat pemahaman. Menghafal dilakukan untuk mendapat poin-poin utama materi yang sedang dipelajari.

Begitulah sulitnya (baca: tantangan) belajar di Gontor. Di setiap kelas pun ada tingkat kesulitannya masing-masing. Semakin tinggi semakin sulit. Di kelas satu, sebagian besar pelajaran masih menggunakan berbahasa pengantar bahasa Indonesia. Hanya pelajaran hadits, mahfudzat, dan tafsir yang menggunakan bahasa arab. Itu pun masih disertai terjemah bahasa indonesia.

Naik ke kelas dua, pelajaran-pelajarannya adalah terjemahan dari pelajaran kelas satu ke dalam bahasa arab. Di tingkat ini santri mulai dikenalkan dengan pelajaran nahwu dan sharf, walaupun begitu, di tahap ini materi bahasa arabnya masih banyak disertai harakat untuk memudahkan membaca dan memahaminya. Baru setelah naik ke kelas tiga materi-materi bahasa arab tidak berharakat lagi. Dan begitu seterusnya. Semakin tinggi kelasnya semakin sulit (baca: semakin menantang) juga pelajaranny.

Itulah yang membuat santri Gontor memiliki nilai lebih dibandingkan dengan murid biasa diluar sana. Karena proses yang memerlukan kesabaran dan ketekunan untuk menjalaninya. Belum tentu orang biasa dapat menjalaninya. Belum tentu murid biasa bisa melakukannya. Banyak cerita santri yang sebelum masuk Gontor diikenal pandai,namun begitu masuk, nilainya jemblok. Hanya orang terpilih yang mampu menjalani proses pendidikan dan pengajaran gontor selama 6 tahun penuh.

Nilai perjuangan dalam menuntut ilmu seperti itulah yang jarang ditemukan di lembaga pendidikan non-pesantren. Resiko tidak belajar di Gontor adalah tidak naik kelas.

Namun sekalipun mempelajari materi pelajaran KMI itu sulit, sistem pendidikan Gontor sama sekali tidak menghalalkan santrinya untuk mengambil jalan pintas guna meraih kesuksesan dengan menyontek. Disini, santri yang ketahuan menyontek haknya adalah di skros selama satu tahun dan harus mengulangi kelasnya lagi.

Penegakan disiplin tersebut sangat tegas. Tanpa pandang bulu. Bukan seperti yang kurasakan saat SD dulu, dimana seorang wakil kepala sekolah justru menginstruksi permainan kode dalam UN. Hujahnya untuk kebersamaan. Kebersamaan taik! Dan aku yakin itu tidak terjadi di SD ku saja. Bahkan semakin tinggi pasti semakin parah.

18 Desember 2014 lalu, pada pembukaan ujian tulis pertengahan tahun, Kiayi Syukri yang masih sakit datang dengan kursi roda. Dengan terbata, dalam nasihatnya beliau menekankan, ujian ini bukan main-main. Nggak bisa langsung coret. Nggak ada yang  nyontek. BETAPA MALUNYA PUNYA ALUMNI TUKANG CONTEK. Di nasehat selanjutnya, Kiayi Hasan menambahkan, yang nyontek langsung tindak dengan tegas.

Namun memang begitu cara Gontor mempertahankan jati dirinya, Gontor tidak mau memiliki Alumni yang buruk. Karena dalam cita-citanya, Gontor ingin mencetak pemimpin umat dimasa depan. Mau jadi apa umat kalau pemimpinnya dididik untuk menyontek.

Lebih dari itu, contek-menyontek ini berhubungan erat dengan mental seseorang. Orang suka menyontek berarti mentalnya hancur. Menyontek adalah cermin bahwa pelakunya tidak memiliki rasa percaya diri, hingga harus menggantungkan nasibnya kepada orang  lain. Juga belajar untuk dirinya sendiri pun tidak mau. Pemalas. Parahnya, pemuda Indonesia saat ini secara tidak langsung dibiarkan menerima pendidikan menyontek itu.

Di awal, menyontek dalam ujian adalah hal yang sepele.tapi bukankah itu akan membentuk kepribadian? kalau budaya menyontek itu terus saja dibiarkan berlanjut, pemuda yang dididik untuk menyontek itulah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini. Kiai Hasan juga menilai, kebiasaan menyontek ketika masih jadi pelajar itu akan terbawa hingga dewasa. Hingga saat sudah jadi presiden, jadi menteri, jadi pejabat, masih suka menyontek punya orang lain. Masih suka menyontek negara lain. Dan bukankah dengan itu berarti kita membiarkan negara ini disetir menuju kehancuran?


Semoga semua orang di negeri ini segera sadar, bahwa untuk mewujudkan Indonesia yang maju, diperlukan kemauan dan usaha keras dari semua warganya. Setidaknya negeri ini harus didominasi oleh orang-orang baik jika benar mau jadi negeri yang baik juga~

Comments

Popular posts from this blog

Gontor Horror Story~

Satu (lagi) kejadian yang sempat membuat pondok sibuk membicarakannya. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan bahwa seorang santri yang berasrama di gedung Yaman kesurupan *JGLARR!!. Letak gedung itu memang cukup ekstrim, yakni diujung tenggara kawasan pondok dan paling dekat dengan sungai Malo—sungai tempat sisa-sisa pengikut PKI dipancung berpuluh tahun yang lalu— letak tersebut masuk kategori seram dan mengerikan untuk ukuran asrama. Menurut kabar yang beredar, sebab seorang santri itu kesurupan menurutku cukup menarik perhatian. Ceritanya, si Dono—sebut saja begitu— kehilangan sejumlah nominal uang yang dia simpa di dalam lemari pakaian. Tidak terima dan sakit hati, emosi Dono pun memuncak. Berdirilah ia di teras kamarnya di lantai dua yang langsung menghadap ke arah sungai Malo. “Sini! Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul, atau apapun yang ngambil duitku. ANA LA AKHOF!! Nggak Takut!!” Seperti itu kurang lebih ia berteriak meluapkan amarah . Seakan tantangannya sampai ke telinga ...

Damainya Gontor Tanpa Marosim~

Di Gontor ada dua jalan pemikiran yang saling bertentangan namun juga selalu berjalan beriringan menemani kehidupan santri. Yang pertaman adalah mereka yang setuju bahwa marosim itu bermanfaat untuk melancarkan kegiatan pondok, dan kedua adalah mereka yang justru menganggap marosim adalah bukti bahwa santri Gontor itu lelet dan tidak punya jiwa ketanggapan Jika diterjemahkan denganbahasa arab yang benar, marosim itu berarti upacara. Namun dalam istilah gontori, marosim adalah suatu cara yang dilakukan oleh pengurus untuk mempercepat gerak anggotanya. Misalkan marosim pergi ke masjid, marosim keluar kamar sebelum membaca do’a, marosim berwudlu sebelum shalat, marosim masuk kelas, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama ini hidup santri Gontor selalu lengket dengan kata marosim.penggunaan kata marosim tersebut merujuk pada anggota-anggota yang diberdirikan dengan suatu posisi barisan tertentu menyerupai upacara jika terlambat. Sebenarnya penggunaa kata marosim itu kurang tep...

Nyusu Sambil Ngemil Frech Fries ala The Milk #KulinerBoyolali

Penampang dari meja luar Petualangan Ulil bareng Griya Pulisen Boys menyusuri sudut-sudut mengisi perut di Boyolali pada malam hari belum berakhir. Kali ini spesial banget, karena malam ini, adalah malam takbiran. Malam ini kami keluar Cuma bertiga, Ulil, Estu (@paangestu), Aga (@Riyanto_aga). Dido yang biasanya habis-habisan di- bully sedang mudik ke habitat asalnya, sementara Arsyad, nyusul terakhiran. Padahal kami bertiga baru keluar dari gapura Griya Pulisen I hampir pukul 21.30 malam, tapi jalanan Boyolali masih ramai banget. Apalagi Jl. Solo-Semarang yang melintasi pasar kota boyolali. Polisi lalu lintas berjaga hampir di setiap persimpangan, memejeng motor dengan lampu panjang berkelap-kelip merah di atas joknya. tembok Kecuali mobil-mobil pemudik yang bernomor polisi B,F,D, dsb., jalanan dipenuhi oleh mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut belasan orang, entah kemana tujuan mereka. Yang jelas, hampir setiap mobil sudah dilengkapi dengan speaker jumbo yang meng...