Tepat hari ini, terhitung ujian tulis pertengahan tahun
sudah berjalan selama 6 hari. Sisana tinggal 4 hari dengan jumlah mata
pelajaran yang tidak sebanyak pada 4 hari pertama ujian dimulai.
Semakin ujian akan selesai, justru jadi pertanda bahwa fase
yang paling kami tunggu-tunggu selama 5 bulan terakhir akan segera datang.
Sebagai seorang santri yang menuntut ilmu daslam lingkungan
pondok pesantren, masa liburan adlah satu-satunya kesempatan buat kami
untukmenghirup udara bebas dunia luar tanpa perlu mempertimbangkan apakah yang
kami kerjakan itu melanggar disiplin atau tidak. Diluar, kami bebas mengerjakan
apapun tanpa ada yang akan mengatur dan membatasi. Hal itulah yang membuat
sebagian (besar) orang Gontor berpikir bahwa pulang adalah kesempatan
berhura-hura untuk melepaskan title santrinya. Semau gue!
Maka tidak heran kalau saat pulang, santri Gontor justru
kerap kali melajkukan perbuatamn yang sebenarnya itu jauh melampaui batas
seorang santri. Tidak heran kalau diluar santri Gontor ikut larut dalam sisi
kehidupan pemuda yang rusak. Ikut mabuk, ikut balapan liar, atau bahkan bisa
lebih parah. Karena di Gontor, secara tidak langsung para santri juga dididik
untuk memperjuangkan apa yang jadi keinginannya. Baik atau burukkah itu.
Karena, sebagian orang di Gontori itu malu diberi titel
santri. Malu menjalani kehidupan yang sarat dengan nilai-nilai islami. Maka diluar,
mereka malah membuktikan bahwa santri juga bisa maksiat. Maka diluar sering
kali santri Gontor berperilaku seperti seekor macan lapar yang lepas dari
kandang. Dan itu bodoh sekali.
Padahal, sebenarnya pulang dan terlepas dari semua disiplin
Gontori itulah jawaban kenapa kita jauh-jauh menuntut ilmu disini. Saat pulangah
kita seharusnya mengamalkan apa yang kita dapatkan selama berbulan-bulan
mengasngkan diri. Kita dituntut untuk menjadi mundziru-l-Qaum. Pemberi peringatan
seperti yang sering Kiai Hasan tekankan. Diluar kita juga diuji apakah kita
mampu untuk tetap bergaya hidup islami tanpa paksaan.
Namun hanya kalau kita sadar. Karena orientasi hidup kita
ini bukan di pondok. Tidak selamanya kita berada disini dan terus dididik. Seiring
berjalannya waktu, pasti akan datang saatnya dimana kita harus benar-benar
hidup di dunia luar. Kalau kita tidak memiliki dasar pondasi yang kuat, hidup
kita akan terombang-ambing ke kanan dan kekiri terseret oleh kata-kata gaul,
trendi, dan lain sebagainya.
Kecuali kalau memang ada yang berniat untuk menghabiskan
sisa hidupnya dengan menjadi santri Gontor. Terus saja dididik dan dievaluasi
tanpa menyisakan asar sedikitpun. Ya silakan saja terus berpikiran seperti yang
kita bicarakan tadi.
Padahal, seharusnya saat liburan, walaupun masih berstatus
santri, kita mulai mengamalkan nilai-nilai yang kita dapatkan di Gontor. Karena
dengan langsung mengamalkan, kita juga langsung tahu kekurangan, sehingga kita
juga masih punya kesempatan untuk memperbaikinya begitu kembali lagi ke pondok.
Kenapa kita harus berbuat dan berperilaku baik saat pulang
juga karena kita telah mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan pendidikan di
Gontor. Jadi kalau saat kita pulang ternyata perilaku dan perbuatan kita sama
saja atau bahkan lebih buruk daripada orang luar, betapa sia-sianya semua uang,
waktu, dan perasaan yang telah kita relakan.
Pulang adalah saat satu mutiara diambil dari kawanannya
untuk ditaruh diantara sampah-smpah. Adalah saatnya membuktikan kalau kita,
pemuda bernilai lebih. Semoga kamu tahu.
Comments
Post a Comment